Yakin kamu gak pamrih?

Rabu, 25 Mei 2016 00:30

Beberapa hari kemarin, alhamdulilah masih diberi kesempatan beberapa kali bertemu dengan orang orang hebat.

Ga terkenal sih, cuma buat saya istimewa.

Saya curhat tentang kondisi saya saat ini, akhirnya diberi pencerahan, dan akhirnya saya sadar, ternyata saya masih pamrih.

Tapi itu wajar ah, dasarnya manusia memang seperti itu, makanya saya ingin coba berbagi sedikit.

Menurut saya ya, saya merasa memproklamirkan diri sebagai seorang yang generous, selfish, isn't it? Tapi kenapa terkadang tuhan memberikan cobaan. Ironis ya? padahal saya juga memproklamirkan diri sebagai seorang liberal dalam beragama.

Suatu pagi saya dapat suatu momen yang benar benar membuat pikiran saya berubah 360 derajat, yaitu saat orang rumah meminta beberapa rupiah dan saya jawab "Duh, gak ada" dengan nada ketus. Alhamdulilah disitu juga saya seperti tertampar.

Dari situ saya sadar dengan maksud kalimat "Kadang, kita terlalu rajin membantu orang yang jauh" setiap bulan, saya infak dan sedekah ke BAZIS DKI, tapi lupa bahwa ada seseorang didepan mata saya yang bernasib kurang beruntung. Tobat.

Kenapa kita lebih rela membantu yang jauh? jawabannya ada di awal artikel, yaitu pamrih, kita akan lebih bangga kalau "saya setiap bulan ngamal di BAZIS" atau "saya setiap bulan nyumbang di panti asuhan" dibanding "saya bantuin pembantu saya", ya karena itu, kita butuh pengakuan, kita butuh dipanggil baik.

Terbukti kok, trik ini berhasil mengelabui kita, pernah diminta sumbangan terus dikasih buku, disuruh isi sendiri nominal kita, tadinya kita nyumbang 5000 rupiah, eh begitu liat atasnya eeh kok kita ngasihnya kecil banget, yang lain ngasih paling kecil 20.000 rupiah masa kita cuma 5000 sih? akhirnya mau gak mau kita ikut ikutan ngasih 20.000 rupiah, karena apa? karena kita gak mau disebut "Ih, pelit banget nih orang".

Atau ada contoh lainnya deh, coba pas belanja di mini-market, pelayannya bilang "300 rupiahnya mau disumbangkan pak?" pasti rata-rata jawabannya "Iya, boleh" padahal padahal, mungkin pelayannya juga gak tau itu duit mau disumbangin kemana. Semua karena apa? ya jawabannya karena kita takut citra kita buruk, masak naik motor bagus, bayar parkir 2000, tapi kembalian 300 perak aja diminta lagi.

Makanya, mari kita renungkan bersama, apa selama ini kita sudah cukup membantu dan membangun lingkungan sekitar kita?

Abis jalan-jalan ama pacar, pulang jalan bawa martabak buat ortunya, biar dikira baik. Giliran sama orang tua sendiri mah boro-boro, dikonciin aja ngomel-ngomel. Ironis.

Read also

Tentang Penulis

Reza Adhi Jakarta

Systems Engineer, Jatuh cinta dengan teknologi, startup dan Programming. Punya harapan agar tulisan saya bisa memberikan pandangan lain tentang teknologi.